Artikel,Bimtek-2026 “JANGAN TTD DULU! Perubahan PMK 7 Tahun 2026 Ini Bisa Jadi Temuan Audit”

“JANGAN TTD DULU! Perubahan PMK 7 Tahun 2026 Ini Bisa Jadi Temuan Audit”

5
Dana Desa

Panduan Lengkap & Aman bagi Kepala Desa dan Pengelola Dana Desa 💼

Pengelolaan Dana Desa menjadi salah satu isu paling penting dalam pemerintahan desa — bukan hanya soal pencairan dan penggunaan dana, tetapi juga bagaimana memastikan seluruh prosesnya sesuai dengan aturan yang berlaku. Tahun 2026 membawa perubahan besar melalui Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 7 Tahun 2026 tentang Pengelolaan Dana Desa Tahun Anggaran 2026, dan jika Anda tidak memahami perubahan ini, risiko temuan audit bisa meningkat tajam.

📜 Apa Itu PMK 7 Tahun 2026?

PMK Nomor 7 Tahun 2026 adalah aturan terbaru dari Kementerian Keuangan RI yang mengatur tata kelola Dana Desa secara komprehensif untuk tahun anggaran 2026. Peraturan ini mencakup hal-hal penting seperti:

  • Pengalokasian dana desa
  • Prioritas penggunaan
  • Mekanisme penggunaan
  • Penyaluran dan pertanggungjawaban dana desa

Aturan ini secara resmi diundangkan pada 12 Februari 2026 dan berlaku untuk seluruh desa penerima Dana Desa di Indonesia.

PMK ini sekaligus mencabut sejumlah aturan lama, termasuk:

  • PMK 145 Tahun 2023 tentang Pengelolaan Dana Desa, dan
  • PMK 81 Tahun 2025 yang merupakan perubahan atas aturan sebelumnya.

Baca juga: Panduan Lengkap & Terbaru: Cara Koperasi Merah Putih Mengajukan Pinjaman Bank Hingga Rp3 Miliar

“JANGAN TTD DULU! Perubahan PMK 7 Tahun 2026 Ini Bisa Jadi Temuan Audit”
“JANGAN TTD DULU! Perubahan PMK 7 Tahun 2026 Ini Bisa Jadi Temuan Audit”

⚠️ Perubahan Besar yang Wajib Dipahami

🧠 1. Skema dan Prioritas Dana Desa Baru

Dana Desa 2026 memiliki pagu anggaran sebesar Rp60,57 triliun, yang dibagi ke lebih dari 75.000 desa di seluruh Indonesia. Dana ini bukan hanya sekadar pendanaan biasa, tetapi dipetakan untuk mendukung tujuan penting seperti:

  • penyelenggaraan pemerintahan desa
  • pembangunan infrastruktur
  • pemberdayaan masyarakat
  • kegiatan sosial kemasyarakatan.

🌱 2. 58,03% Dana Desa Dialokasikan untuk Koperasi Desa Merah Putih

Salah satu perubahan yang paling besar dan kontroversial dari PMK 7/2026 adalah alokasi yang signifikan untuk Koperasi Desa Merah Putih (KDMP). Sekitar 58,03% dari pagu Dana Desa setiap desa diarahkan untuk mendukung program koperasi desa ini, atau sekitar Rp34,57 triliun secara nasional.

Ini berarti sebagian besar anggaran yang sebelumnya bisa bebas dirancang untuk kebutuhan desa kini perlu disesuaikan dengan kebijakan prioritas baru ini.

Baca juga: Mengenal Pendamping Koperasi Desa Merah Putih: Peran Strategis PMO dan Business Assistant dalam Mengawal Ekosistem Ekonomi Desa

📌 Catatan penting:
Jika desa tidak mengintegrasikan program koperasi atau tidak menyusun dokumen perencanaan yang sejalan dengan ketentuan ini, bisa berakibat pada ketidaksesuaian penggunaan dana dengan PMK 7/2026 — yang menjadi salah satu fokus dalam pemeriksaan audit.

📊 3. Dokumen Perencanaan Harus Sinkron dengan PMK 7/2026

Salah satu hal yang sering menjadi temuan auditor adalah ketidaksesuaian dokumen perencanaan desa — seperti:

  • RKPDes (Rencana Kerja Pemerintah Desa),
  • APBDes (Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa),
  • dan dokumen pelaksanaan program/kegiatan.

Jika dokumen ini tidak disusun berdasarkan aturan baru dalam PMK 7/2026, auditor berhak mencatatnya sebagai temuan. Hal ini bisa berdampak pada rekomendasi perbaikan administrasi atau bahkan sanksi administratif.

📋 Risiko Audit Jika Salah Paham Aturan

1. Tidak Sinkronnya Dokumen dengan Aturan Terbaru

Kegiatan yang disetujui secara teknis di desa bisa jadi tidak sesuai dengan aturan fiskal baru, jika dasar hukumnya masih menggunakan PMK lama atau asumsi yang tidak lagi berlaku. Akibatnya, auditor bisa mencatat temuan yang mengganggu reputasi pemerintahan desa.

2. Tidak Mengakomodasi Skema Prioritas Baru

Karena sebagian besar anggaran diarahkan untuk program prioritas (mis. KDMP), desa yang masih memakai pola lama bisa dianggap tidak mematuhi prinsip penggunaan yang ditetapkan. Temuan audit bisa muncul hanya karena tidak menyesuaikan skema pengalokasian dana yang baru.

3. Pencairan Terhambat

Walaupun PMK 7/2026 sudah berlaku, kesalahan penyusunan atau kesalahan administrasi dalam pencairan dana bisa menyebabkan pencairan tertunda atau harus direvisi ulang — yang akhirnya memperlambat program desa berjalan sesuai kebutuhan masyarakat.

Baca juga: Arah Baru Penggunaan Dana Desa Tahun 2026 yang Wajib Dipahami Kepala Desa

📌 Tips Praktis Agar Aman dari Audit

Berikut beberapa langkah konkret yang bisa desa lakukan supaya tidak terjebak temuan audit:

✅ Tinjau dan Perbarui Dokumen Perencanaan

Pastikan semua dokumen perencanaan (RKPDes, APBDes) telah disesuaikan dengan skema terbaru dalam PMK 7/2026. Selaraskan penggunaan anggaran dengan aturan dan prioritas baru.

✅ Gunakan Dasar Hukum yang Tepat

Sebutkan dengan jelas dalam setiap dokumen administratif bahwa acuan yang digunakan adalah PMK Nomor 7 Tahun 2026 — bukan regulasi lama seperti PMK 108/2024 atau PMK 81/2025.

✅ Sinkronkan dengan Prioritas Nasional

Karena sebagian besar dana diarahkan pada program seperti KDMP, pastikan desa memutuskan apakah program ini relevan dan bagaimana cara mengintegrasikannya ke dalam APBDes.

✅ Audit Internal Sebelum Audit Eksternal

Lakukan pemeriksaan internal terhadap penggunaan dana dan pelaporan sebelum audit oleh inspektorat atau pemerintah daerah — ini bisa membantu menemukan celah administrasi yang berpotensi menjadi temuan.

Baca juga: Posisi BUMDes Setelah Hadirnya Koperasi Desa Merah Putih: Terpinggirkan atau Justru Menguat?

📌 Kesimpulan

PMK Nomor 7 Tahun 2026 tentang Pengelolaan Dana Desa Tahun Anggaran 2026 membawa perubahan besar terhadap tata kelola keuangan desa. Selain mengatur total pagu anggaran dan skema prioritas terbaru, ia juga menetapkan arah penggunaan Dana Desa yang mencerminkan kebijakan nasional.

Bagi kepala desa, bendahara, dan perangkat desa lainnya, memahami perubahan ini bukan sekadar kewajiban administratif — tetapi kunci untuk menghindari temuan audit, memastikan akuntabilitas yang kuat, dan memaksimalkan manfaat Dana Desa untuk kesejahteraan masyarakat.

Related Post

Mengenal dan Memahami KEM-PPKF 2026 Arah Kebijakan Fiskal Nasional dan Dampaknya bagi Sistem Keuangan Pemerintah Desa serta Dana Desa Tahun 2026

Mengenal dan Memahami KEM-PPKF 2026: Arah Kebijakan Fiskal Nasional dan Dampaknya bagi Sistem Keuangan Pemerintah Desa serta Dana Desa Tahun 2026Mengenal dan Memahami KEM-PPKF 2026: Arah Kebijakan Fiskal Nasional dan Dampaknya bagi Sistem Keuangan Pemerintah Desa serta Dana Desa Tahun 2026

Lentera Praditya Ganapatih – Dokumen Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal Tahun 2026 (KEM-PPKF 2026) merupakan salah satu dokumen strategis negara yang menjadi fondasi dalam penyusunan RAPBN Tahun Anggaran

Bimbingan Teknis Implementasi TKDN Berdasarkan Permenperin Nomor 35 Tahun 2025

Bimbingan Teknis Implementasi TKDN Berdasarkan Permenperin Nomor 35 Tahun 2025Bimbingan Teknis Implementasi TKDN Berdasarkan Permenperin Nomor 35 Tahun 2025

Lentera Praditya Ganapatih – Dalam rangka mendukung penguatan industri nasional dan optimalisasi pemanfaatan produk dalam negeri, Lentera Praditya Ganaptih kembali menyelenggarakan kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Implementasi Tingkat Komponen Dalam Negeri

Meluruskan Miskonsepsi: Bimtek Bukan Pemborosan, Tapi Investasi Strategis Pengembangan SDM Aparatur Pemerintah Daerah

Meluruskan Miskonsepsi: Bimtek Bukan Pemborosan, Tapi Investasi Strategis Pengembangan SDM Aparatur Pemerintah DaerahMeluruskan Miskonsepsi: Bimtek Bukan Pemborosan, Tapi Investasi Strategis Pengembangan SDM Aparatur Pemerintah Daerah

Lentera Praditya Ganapatih –  Di berbagai instansi pemerintah daerah, kegiatan bimbingan teknis (bimtek) seringkali masih dipandang sebelah mata. Ada anggapan bahwa bimtek hanyalah ajang pelesir, seremonial, atau bahkan pemborosan anggaran karena dianggap