Bimtek Terbaru,Bimtek-2026 Pelatihan Nasional Carbon Trading & Nilai Ekonomi Karbon (NEK) Sektor FOLU

Pelatihan Nasional Carbon Trading & Nilai Ekonomi Karbon (NEK) Sektor FOLU

5
DIKLAT CARBON TRADING

Mendorong Kapasitas Pemerintah Daerah dan Pemangku Kepentingan dalam Era Ekonomi Karbon Global

8–9 Mei 2026 | Hotel Whiz Malioboro Yogyakarta

Program 4 Hari 3 Malam | 7–10 Mei 2026

Di tengah meningkatnya tekanan global terhadap isu perubahan iklim, transisi menuju ekonomi hijau bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan strategis. Dunia saat ini bergerak menuju sistem pembangunan yang menempatkan penurunan emisi karbon sebagai komoditas bernilai ekonomi, yang dikenal melalui skema Carbon Trading (Perdagangan Karbon) atau Nilai Ekonomi Karbon (NEK).

Indonesia sebagai salah satu negara dengan kawasan hutan tropis terbesar di dunia memiliki posisi yang sangat strategis dalam pasar karbon global. Melalui komitmen Nationally Determined Contribution (NDC), target FOLU Net Sink 2030, serta penguatan regulasi melalui Peraturan Presiden Nomor 98 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Nilai Ekonomi Karbon, pemerintah telah membuka ruang yang sangat besar bagi daerah untuk berperan aktif dalam pengembangan proyek karbon berbasis kehutanan, lahan, pengelolaan sampah, restorasi ekosistem, dan sektor lingkungan hidup lainnya.

Namun demikian, peluang besar ini hanya dapat dimanfaatkan apabila aparatur pemerintah daerah, praktisi, akademisi, dan pemangku kepentingan memahami secara utuh mekanisme pasar karbon, tata kelola proyek karbon, sistem pelaporan, hingga potensi nilai ekonominya.

Pelatihan Nasional Carbon Trading & Nilai Ekonomi Karbon (NEK) Sektor FOLU
Pelatihan Nasional Carbon Trading & Nilai Ekonomi Karbon (NEK) Sektor FOLU

Baca juga: Diklat Pendampingan dan Pemutakhiran Masterplan Smart City: Momentum Strategis Pemerintah Daerah Menuju Transformasi Digital Nyata

Berangkat dari kebutuhan tersebut, diselenggarakan:

Pelatihan Nasional Carbon Trading & Pengenalan Nilai Ekonomi Karbon Sektor FOLU

Tema:

“Membangun Kapasitas Daerah dalam Pengembangan Proyek Karbon Berkelanjutan Menuju Ekonomi Hijau Indonesia”

📍 Tempat: Hotel Whiz Malioboro Yogyakarta
📅 Pelaksanaan Pembelajaran: 8–9 Mei 2026
📆 Durasi Program: 7–10 Mei 2026 (4 Hari 3 Malam)
👥 Kuota Peserta: Terbatas
💰 Kontribusi Peserta: Rp4.500.000,- / Orang

Kontribusi sudah termasuk:

✅ Akomodasi hotel 3 malam
✅ Konsumsi selama kegiatan
✅ Makan siang
✅ Makan malam
Coffee Break 4 kali
✅ Modul pelatihan
✅ Sertifikat pelatihan
✅ Seminar kit
✅ Networking session antar peserta lintas sektor

Baca juga: Bimtek Nasional: Penguatan Aparatur Desa Berbasis Hukum dan Team Building: Desa Berdaya, Tim Berjaya!

Mengapa Pelatihan Carbon Trading Ini Penting?

1) Pemerintah Daerah Akan Menjadi Aktor Kunci Ekonomi Karbon

Ke depan, pemerintah daerah bukan hanya sebagai regulator, namun juga pengelola potensi aset karbon daerah.

Banyak OPD yang memiliki keterkaitan langsung terhadap pengembangan proyek karbon, antara lain:

  • Dinas Lingkungan Hidup
  • Dinas Kehutanan
  • Dinas Pertanian / Perkebunan
  • Dinas Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda)
  • Dinas ESDM
  • Unit pengelola persampahan
  • Badan usaha milik daerah sektor lingkungan
  • UPTD konservasi dan rehabilitasi lahan

Melalui pelatihan ini, aparatur daerah akan memahami:

✔ bagaimana menghitung potensi karbon;
✔ bagaimana membangun proyek karbon daerah;
✔ bagaimana menghubungkan proyek ke pasar karbon;
✔ bagaimana proyek karbon dapat menjadi sumber pendapatan daerah berbasis lingkungan.

2) Sampah Kini Bisa Menjadi Sumber Kredit Karbon

Bagi dinas yang bergerak di sektor persampahan dan pengelolaan limbah, Carbon Trading membuka perspektif baru.

Program seperti:

  • sanitary landfill improvement
  • methane capture
  • waste-to-energy
  • RDF
  • komposting skala besar
  • circular economy system

berpotensi menghasilkan pengurangan emisi GRK yang dapat dikonversi menjadi carbon credit.

Artinya:

Baca juga: Bimtek Nasional: Penguatan Tata Kelola Keuangan Bagian Umum yang Akuntabel dan Bebas Temuan Audit

pengelolaan sampah bukan lagi hanya biaya operasional daerah—tetapi dapat berubah menjadi aset ekonomi lingkungan.

3) Kehutanan Daerah Memiliki Nilai Ekonomi Baru

Bagi instansi yang menangani hutan, kawasan lindung, rehabilitasi DAS, gambut, mangrove, hingga agroforestry—potensi ekonominya sangat besar.

Skema karbon dapat berasal dari:

  • konservasi hutan
  • reforestasi
  • restorasi gambut
  • perlindungan mangrove
  • social forestry
  • sustainable forestry management

Semua ini dapat dikembangkan menjadi proyek karbon yang memiliki nilai jual internasional melalui skema voluntary market maupun pasar karbon nasional.

4) Membuka Peluang Besar Bagi Praktisi & Konsultan

Pelatihan ini juga sangat relevan bagi:

Praktisi proyek karbon

karena akan memahami penyusunan proyek karbon dari hulu ke hilir.

Konsultan lingkungan

karena kebutuhan jasa penyusunan dokumen karbon akan meningkat signifikan.

Akademisi

karena riset karbon, MRV, baseline emission, GIS carbon mapping, dan policy carbon governance menjadi bidang kajian strategis.

LSM & Mitra Pembangunan

karena isu climate finance menjadi salah satu fokus utama pendanaan internasional.

Pelaku usaha kehutanan berkelanjutan

karena proyek karbon dapat menjadi diversifikasi pendapatan usaha berbasis konservasi.

Fokus Materi Pembelajaran (2 Hari Intensif)

Baca juga: Diklat Nasional 2026: Peningkatan Kompetensi Staf Administrasi SPJ dan Kontrak Pengadaan Konstruksi

Hari Pertama – Fondasi Carbon Trading & Kebijakan Karbon Nasional

Materi utama:

  • arah kebijakan karbon global
  • target Indonesia menuju FOLU Net Sink 2030
  • implementasi Perpres 98/2021
  • mekanisme perdagangan karbon nasional
  • compliance market vs voluntary carbon market
  • struktur kredit karbon
  • pricing carbon
  • potensi proyek karbon sektor kehutanan dan lingkungan

Output:

Peserta memahami landscape industri karbon nasional dan global.

Hari Kedua – Penyusunan Proyek Karbon & Potensi Ekonominya

Materi utama:

  • pengantar Project Design Document (PDD)
  • baseline & additionality
  • boundary project
  • monitoring reporting verification (MRV)
  • integrasi ke SRN Indonesia
  • DRAM & LCAM
  • simulasi sederhana valuasi ekonomi karbon
  • studi kasus proyek karbon Indonesia

Output:

Peserta memiliki gambaran awal membangun proyek karbon yang feasible secara teknis dan ekonomis.

Siapa yang Perlu Mengikuti?

Pelatihan ini direkomendasikan bagi:

✅ Pemerintah Provinsi / Kabupaten / Kota
✅ Dinas Lingkungan Hidup
✅ Dinas Kehutanan
✅ Dinas Persampahan
✅ Bappeda
✅ UPT konservasi
✅ BUMD sektor lingkungan
✅ Praktisi proyek karbon
✅ Konsultan lingkungan
✅ Akademisi / peneliti
✅ NGO / LSM lingkungan
✅ Mitra pembangunan
✅ Pelaku usaha kehutanan berkelanjutan

Baca juga: Penawaran Kegiatan Kerjasama Pendampingan Teknis Implementasi SISKEUDES Versi 2.0.9 Tahun 2026 bagi Apratur Pemerintah Desa di Seluruh Indonesia

Penutup

Carbon Trading bukan isu masa depan—ia sudah menjadi instrumen ekonomi hari ini. Daerah yang lebih dahulu memahami tata kelola karbon akan memiliki keunggulan strategis dalam menarik investasi hijau, memperkuat pembiayaan lingkungan, dan menciptakan sumber pendapatan baru berbasis konservasi.

Melalui pelatihan ini, peserta tidak hanya memperoleh wawasan konseptual, tetapi juga memahami bagaimana peluang karbon dapat diterjemahkan menjadi program nyata yang bernilai ekonomi tinggi bagi daerah dan institusi masing-masing.

Mari menjadi bagian dari transformasi ekonomi hijau Indonesia.

Pelatihan Nasional Carbon Trading & Nilai Ekonomi Karbon

📍 Hotel Whiz Malioboro Yogyakarta
📅 8–9 Mei 2026
🛏 Program 4 Hari 3 Malam (7–10 Mei 2026)
💰 Kontribusi: Rp4.500.000,- / peserta

CONTACT PERSON REGISTRASI:

0812-5367-5511

0812-2793-2317

atau dapat langsung mengisi FORM REGISTRASI Dibawah ini: (Selanjutnya, Admin akan menghubungi calon Peserta)

Related Post